Kajian dan Buka Bersama SMP IT Masjid Syuhada 1442 H bersama Ustadz Adi Abdillah

  • 11 May 2021
  • 110 views
Kajian dan Buka Bersama SMP IT Masjid Syuhada 1442 H bersama Ustadz Adi Abdillah

Kata “taqwa” sering didefinisikan sebagai sikap seorang hamba untuk taat menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Meski begitu, definisi semacam ini perlu diperdalam dan dikupas lebih spesifik agar muatannya lebih implementatif. Hal ini dikarenakan kadar setiap hamba dalam konteks “mematuhi seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya” sangat beragam, terkesan normatif, serta seakan-akan sulit dicapai—terlebih mengingat sifat dasar manusia yang kerap lupa, lalai, dan salah. Karena itu, kata “taqwa” bisa diperjelas maknanya sebagai sikap seorang hamba dalam menyelamatkan dirinya dari perilaku maksiat.

Hal tersebut tidak lepas dari maraknya perilaku manusia yang mencampuradukkan antara ketaatan dan kebatilan. Ada sekelompok orang yang sering melakukan amal shaleh, rajin bersedekah, giat menjalankan shalat-shalat sunnah, tapi di sisi lain ketika godaan maksiat datang mereka terjerumus juga dalam perilaku maksiat. Melihat fenomena tersebut, ketakwaan seseorang tidak bisa diukur secara sempit berdasarkan kuantitas ibadahnya semata melainkan lebih ke bagaimana ibadah-ibadah tersebut membentuk sikap mental dalam diri pelakunya untuk menyelematkan diri dari maksiat. Apalagi, dalam konteks menjalankan ketaatan, kita diperintahkan untuk menjalankan ketaatan semampunya. Namun dalam konteks menghindari maksiat, kita mutlak harus menjauhinya tanpa toleransi.

Demikian salah satu poin kajian yang disampaikan Ustadz Adi Abdillah dalam acara “Kajian dan Buka Bersama SMP IT Masjid Syuhada” yang dilangsungkan Senin (10/5) lalu. Kajian dan buka bersama ini dilangsungkan di halaman kompleks SMP IT Masjid Syuhada dan dihadiri segenap ustadz/ustadzah, staff karyawan, serta perwakilan Komite Sekolah.

Ustadzah Meilani Noor Khasanah memberi sambutan dalam acara Kajian dan Buka Bersama SMP IT Masjid Syuhada, Senin (10/5) lalu.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Ihsan Febriyanto. Setelahnya, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ustadzah Meilani Noor Khasanah selaku Kepala SMP IT Masjid Syuhada. Dalam sambutannya, Ustadzah Meilani menyampaikan apresiasi terhadap acara buka bersama tersebut, serta pihak-pihak yang telah bersedia hadir. Beliau juga berharap acara kajian dan buka bersama tersebut dapat meningkatkan dan mempererat jalinan ukhuwah segenap keluarga besar SMP IT Masjid Syuhada.

Acara dilanjutkan dengan kajian yang dibawakan oleh Ustadz Adi Abdillah. Selain poin tentang pemahaman ketakwaan yang telah disebutkan di awal tulisan ini, beliau juga menyampaikan beberapa poin penting tentang amal shaleh, urgensi syukur, dan keutamaan membaca Al-Qur’an.

Tentang keutamaan membaca Al-Qur’an—disebutkan bahwa seyogyanya Al-Qur’an itu dikhatamkan minimal dua kali dalam setahun oleh setiap muslim [syukur bisa lebih]. Meskipun tidak semua di antara kita memiliki kapasitas untuk menafsirkan atau memahami artinya, namun membaca Al-Qur’an tetap penting untuk dilakukan dalam kondisi yang bagaimanapun. Setidaknya, dengan rajin membaca Al-Qur’an, insya Allah, kita bisa beroleh keberkahan dari bacaan tersebut serta bisa memupuk kecintaan kita kepada Al-Qur’an. Terlebih di bulan Ramadhan, bulan turunnya Al-Qur’an, maka pahala atas setiap ayat yang dibaca akan dilipatgandakan. Insya Allah.

Tentang amal-amal saleh—Ustadz Adi Abdillah berpesan agar kita menjauhi perasaan was-was/khawatir yang berlebihan jika ibadah kita ditolak Allah, karena hal tersebut berasal dari bisikan setan. Beliau juga berpesan agar kita tidak meremehkan amalan-amalan kecil/ringan karena kita tidak pernah tahu di amal yang mana ridha/rahmat Allah itu turun. Demikian pula sebaliknya, jangan meremehkan dosa-dosa kecil, karena kita tidak tahu murka Allah akan turun di dosa yang mana.

Kajian dan Buka Bersama SMP IT Masjid Syuhada, Senin (10/5), dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan

Tentang urgensi syukur, Ustadz Adi Abdillah mengingatkan kita untuk selalu belajar mensyukuri segala nikmat Allah, kapanpun dan dalam kondisi bagaimanapun. Rasa syukur merupakan salah satu kunci meraih kebahagiaan hidup. Orang yang hatinya diliputi rasa syukur akan lebih mudah untuk bersikap qanaah dan bersikap positif terhadap ketetapan pemberian Allah.

Rasa syukur juga berlaku dalam konteks ibadah. Seorang mukmin yang baik tentu ingin beramal dengan kuantitas serta kualitas amal yang baik. Namun terkadang karena suatu hal atau keadaan, kita merasa amal-amal yang kita lakukan tidak bisa seintens si fulan atau si fulan. Dalam hal ini, rasa syukur berperan penting agar kita tetap bisa berpikiran positif terhadap amal-amal yang kita kerjakan. Meski dalam pandangan subjektif kita, amal-amal kita tidak sebanyak orang lain, kita bisa tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah untuk beramal sebagai wujud ungkapan kasih dan penghambaan kita kepada Allah.

Kajian Ustadz Adi Abdillah ditutup dengan doa bersama dilanjutkan dengan sesi buka bersama. Dalam kondisi pandemi Covid-19, maka acara buka bersama ini dikondisikan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Semoga hal tersebut tidak mengurangi esensi kegiatan buka bersama itu sendiri.[]