Cerpen “Si Muros Pembawa Berkah”

  • Friday, 3 February 2023
  • 105 views
Cerpen “Si Muros Pembawa Berkah”

Karya: Azka Haikal Rashad

_____________________________

Siang itu waktu sudah menunjukkan pukul 13.20 WIB. Aku dan temanku bernama Cecep sudah berencana untuk mewancarai penjual di Alun-alun Kidul Yogyakarta untuk tugas sekolah. Berangkatlah kami ke Alun-alun Kidul dari rumah menggunakan sepeda lipat merek terkenal itu.

Ketika di jalan —

“Cep, kamu udah bawa alat untuk wawancara kan? Kemarin udah aku suruh bawa buku sama bolpoin loh,” ujarku.

“Iya, aku udah bawa kok santai aja, Ros!” jawab Cecep santai.

Oh iya, namaku adalah Muros singkatan dari “muka boros”. Hmm ya karena wajahku kelihatan seperti bapak-bapak. Padahal, aku masih SMP.  Banyak orang salah sangka sama umurku.

Sesampainya di Alun-alun Kidul

“Hmm kita tanya yang mana ya, Ros?” tanya si Cecep.

“Oh yang itu aja Cep yang lagi duduk-duduk sambil main handphone,” jawabku.

Lalu aku samperin deh penjual itu dan tiba-tiba penjual itu kaget.

“Oh iya Pak mari… Mau beli ya, Pak? Aku jualan cilok satu biji satu juta. Dijamin enak banget loh, Pak!” ujar penjual cilok meyakinkan.

“Oke, baik deh Mas. Aku beli lima biji berarti lima juta sekalian temanku juga ya. Nah, ini uangnya!” kusodorkan uang lima ribu rupiah ke penjual tersebut.

“Aku terima uangnya dan aku siapkan dulu ya untuk ciloknya!” kata penjual.

“Mas, sambil nunggu nih aku mau wawancara boleh kan, Mas? Oh iya, info penting juga buat mas kalau aku masih SMP, bukan bapak-bapak, hahaha” jawab Muros cekikikan.

“Duh iyakah? Wah maaf ya, Dik! Kukira udah tua, lha mukanya kayak bapak-bapak. Terus mau nanya apa ya dik?” kata si penjual.

“Gini Mas, tapi dengan Mas siapa ya kalau boleh tau?” tanyaku.

“Nama aku Ucok, urang sunda asli. Ada apa teh naon?” tanya Mas Ucok.

“Aku mau tanya, kan sekarang ada wabah corona emang masih aman ya mas jualan dan emang masih banyak yang beli, Mas? Kan ada virus corona, orang-orang jadi takut keluar, ya kan?” tanyaku.

“Hmm gini, Dek. Kan kita sebagai penjual sudah dapat anjuran dari pemerintah yang bernama new normal. Nah itu tuh kita sebagai penjual makanan atau lain-lain masih boleh jualan kok Dik. Namun, kita harus menerapkan social distancing dan selalu mengunakan masker ketika berjualan,” jawab Mas Ucok sambil menyodorkan bungkusan cilok padaku dan Cecep.

“Untuk menjawab pertanyaan adik yang nomor dua itu sih tergantung ya karena sudah ada new normal, jadi sudah mulai banyak yang beli. Namun, sebelum new normal, jualan aku sepi banget, Dik,” tambah Mas Ucok menjelaskan.

“Oh oke makasih Mas sudah menjawab pertanyaan aku. Hmm ini ciloknya enak banget loh, Mas. Kalau begitu aku pergi dulu dan izin pulang,” pamitku pada Mas Ucok.

“Iya, Dik. Semoga sehat selalu. Wassalamualaikum,” Mas Ucok mengucapkan salam.

“Waalaikumussalam, Mas,” sahut kami bersamaan.

Perjalanan pulang ke rumah —

Ketika sedang bersepeda, aku dan Cecep bertemu dengan seorang bapak yang duduk di kursi sedang termenung sambil membawa koran. Kuberanikan untuk mulai menyapa dan memberi salam.

“Assalamualaikum, Pak! Bapak sedang apa?” tanyaku.

“Wa’alaikumussalam. Oh iya Dik, ada apa? Aku kira pak RT tadi karena (maaf) mukanya kelihatan tua,” jawab bapak itu.

“Hehe iya nggak apa-apa kok Pak karena muka aku emang kelihatan sudah tua,” jawabku.

Perkenalkan nama aku Muros dan ini teman aku Cecep. Maaf dengan bapak siapa ya?” tanyaku.

“Nama aku Pak Asep, Dik. Aku dulu kerja di pabrik semen sekarang sudah di PHK gara-gara corona makanya aku sedang mencari lowongan pekerjaan di koran,” ujar Pak Asep memelas.

Kemudian aku dan Cecep terpikir untuk membantu Pak Asep.

“Oh seperti itu ya, Pak. Semoga segera dapat pekerjaan. Kami boleh bantu kan, Pak?” tanyaku dan Cecep.

“Boleh kok, silakan Dik!”

Aku dan Cecep berdiskusi gimana caranya supaya bisa membantu Pak Asep mencari pekerjaan.

“Gini aja, Ros. Kan ibuku jualan baju. Nah, ibuku itu butuh pengantar pesanan baju untuk pelanggan. Jadi, coba kita tanya Pak Asep barangkali mau kerja di tempat ibuku,” usul si Cecep.

“Ide bagus tuh Cep. Ayo kita tanya!” jawabku.

“Pak, jadi gini ibunya Cecep temanku ini sedang butuh pekerja pengantar pesanan. Nah, apakah Pak Asep mau?” tanyaku.

“Apa boleh, Dik? Wah terima kasih ya, Dik. Bapak merasa sangat senang dan terbantu karena selama ini bapak bingung cara menafkahi anak istri,” seru Pak Asep dengan mata berbinar.

“Iya boleh kok, Pak! Nah, ini alamat butik ibuku datang ya, Pak,” kata si Cecep sambil menyerahkan kartu alamat dan berpamitan pulang.

“Wah, terima kasih banyak ya, Dik. Semoga sehat selalu, jadi anak yang sholeh dan pintar ya! Wassalamualaikum.” ucap Pak Asep.

Aku dan Cecep sambil menaiki sepeda lalu mengucapkan, “Terima kasih, Pak! Wa’alaikumussalam,” jawab kami dengan kompak.

Sesampainya di rumahku, Aku dan Cecep langsung mengetik hasil wawancara. Tugasnya langsung kami kumpulkan.

***

Pengumuman nilai esok harinya

“Horeee! Alhamdulillah hasil wawancaraku dan Cecep mendapatkan nilai tertinggi. Kami pun bersorak.

“Wah nggak sia-sia muka borosmu ini membawa berkah ya, hahaha” ledek Cecep pada Muros.