Cerpen “Bertaut”

  • Tuesday, 9 May 2023
  • 121 views
Cerpen “Bertaut”

Karya: Aqilla Aprillia Najla

_____________________________

Hampir satu jam aku duduk di bangku taman segi panjang yang hanya terbuat dari semen di samping pohon Akasia. Berharap seseorang yang ku puja itu datang menemuiku disini, seperti janjinya. Udara kering mulai menggerogoti jalan, sementara kegelisahan mulai menyerangku. Aku harus mengambil nafas berulang kali agar aku bisa tenang dan mengambil kesejukan dari pohon Akasia. Aku beranjak dari tempat duduk segi panjang. Lalu berjalan menuju kolam ikan. Airnya yang jernih memperlihatkan lumut-lumut hijau yang tumbuh di sisi dan dasar kolam. Hijau lumutnya begitu cerah. Tampak lumut-lumut hijau itu sangat senang bisa hidup bersama dengan ikan-ikan mas. Ikan mas oranye mengatup-ngatupkan mulutnya dengan sangat lucu. Langit sudah menjadi kuning keemasan. Dan hawa panas mulai mereda. Aku terduduk sendiri di ayunan merah. Mengayunkannya perlahan-lahan sambil memandang kosong ke arah kolam ikan di samping ayunan.

“Sangat berbahaya duduk sendiri di taman sepi seperti ini, Nona!” suara lembut dengan nada

khawatir, menyadarkanku dari pandangan kosong.

“Sekarang sedang maraknya penculikan, kau tahu?” tambahnya. Ia tersenyum bergurau.

Ia duduk di ayunan hijau di samping tempatku. Wajahnya cerah, hidung mencuat, alis tebal, dan binar matanya teduh. Rambutnya mengikuti irama ayunannya. Bergoyang-goyang ke depan ke belakang.

“Saya pintar berkelahi, tuan!” ledekku.

“Oh iya, aku lupa,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Kemudian, ia mengayunkan ayunannya lebih kencang. Rambutnya menari-nari tertiup angin. Pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Dia Sadam, laki laki tampan yang sudah menemani hidupku selama 2 tahun ini.

“Sa,” panggilku pelan.

“Iya cantik?”

“Tadi ayah telfon, dia minta aku dan Arga untuk dateng, i have a bad feeling about that, aku takut,” “Hey ga usah takut, besok aku anterin ya?” tawar Sadam.

“Aku cuma khawatir sama Arga, dia udah berusaha keras untuk melindungi aku, padahal seharusnya aku yang melindungi dia, aku gagal menjadi kakak,”

“Kamu gak gagal, Nara. kamu hebat, kalian hebat,”

“Sudah sepastinya kalian berdua saling melindungi, ga ada yang gagal, you are the best sister in the

world,” ucap Sadam menenangkanku.

“Tapi nyatanya aku ga bisa ngelindungin dia, aku cuma bisa diem waktu liat dia dipukul ayah karena belain aku… Harusnya aku yang ngerasain itu semua.” Sadam langsung membawa ku ke dalam dekapannya. Dia mengelus rambutku pelan.

“Huss..udah ya? Jangan ngerasa kaya gitu lagi, ga ada yang berhak menerima pukulan pukulan jahat itu, kamu udah jadi kakak yang baik buat Arga, dan juga sebaliknya.”

“Udah yuk, ayo pulang, sebentar lagi gelap,” ujarnya lembut.

Wajahnya sudah berada di depanku. Aku hanya diam. Seluruh tubuhku menolak untuk beranjak dari tempat ini. Terutama hatiku yang masih ingin bersamanya.

“Senja hampir habis, ayo pulang, Nona!” pintanya.

Suaranya yang lembut itu membuat tubuhku tersadar. Aku memaksa tubuhku bangkit dari ayunan. Kemudian setelah menyadari langit hampir gelap dan taman ini sepi sekali, hatiku mau juga diajak pulang. Perjalanan pulang kali ini diselimuti oleh keheningan. Kita berdua larut dalam pikiran masing-masing.

Keesokan paginya, aku langsung bergegas untuk pergi ke rumah ayah. Ketika aku sedang memakai sepatu, tiba tiba bunyi klakson mengagetkanku. Ya, pelakunya adalah Sadam. Seperti biasa dia membawa motor hitam kesayangannya itu.

“Ih ngagetin!” Aku memukul lengannya pelan. “Haha selamat pagi cantik, ayo berangkat.”

Dia mulai menjalankan motornya menuju rumah ayah. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi tentu akan terasa capek kalau jalan kaki. Setelah sekitar 7 menit, akhirnya kita sampai. Rumah besar dengan pohon rambutan di depannya menyambut kita. Pemandangan yang sudah lama tak kulihat. Terakhir aku kesini, masih banyak tanaman tanaman kecil yang hidup.

“Makasih Sa udah nganterin,” ucapku sambil memberikan helmnya. “Iya sama sama,”

“You can do it, Nar. Titip salam buat adik ipar ya, see you cantik,” imbuh Sadam.

“Dih, udah sana aku mau masuk, hati hati ganteng,” pamitku.

Aku mulai melangkahkan kakiku ke depan pintu. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu itu terbuka juga. Seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu sambil memasang tatapan tajam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia langsung masuk, dan aku mengikutinya dari belakang. Terlihat seorang laki-laki dengan kemeja hitam duduk di sofa ruang tamu.

“Arga! Apa kabar? Kok kamu tambah tinggi sih.” Aku langsung memeluknya kencang. Sudah lama kita tidak bertemu, mungkin sekitar 5 bulan, itu sangat lama bagi ku. Dia tinggal di Bandung, menemani kakek. Sudah beribu ribu kali aku mengajaknya untuk tinggal bersama, tapi selalu saja dia menolak, dia bilang tidak mau membebani kakaknya, padahal aku tidak pernah merasa seperti itu. Walaupun begitu, aku tetap mendukungnya. Dia mungkin bisa lebih bahagia dan juga fokus untuk belajar, pikirku. Aku tau, tinggal bersama ayahku pasti sangat melelahkan.

“Aku baik baik aja kak,” ucapnya sambil membalas pelukanku.

“Tidak usah berlebihan,” tegur ayah. “Maaf ayah,” ucap ku lirih.

Suasana ruang tamu menjadi sangat mencekam. Aku dan Arga sama-sama tidak berani membuka suara. Ayah duduk di depan kita sambil melayangkan tatapan tajam. Aku hanya bisa menunduk dan menunggu ayah berbicara.

“Ayah akan mengirim Arga ke California.” Sontak aku dan Arga kaget.

“Ada apa, yah?” tanya Arga.

“Ayah ingin kamu melanjutkan pendidikan di sana,” jawab ayah. “Bukannya ayah udah setuju kalau aku bakal kuliah di sini?” protes Arga. “Kamu akan menjadi penerus perusahaan ayah!” bentak ayah.

“Kenapa, yah? Ayah kan tau kalau aku ingin jadi dokter, jangan membuat usaha ku selama ini menjadi sia sia yah, aku mohon,” pinta Arga.

Aku tau betul bagaimana usaha Arga selama ini. Sedari kecil, dia sudah bertekat untuk menjadi dokter. Bahkan dia mendapat beasiswa di universitas kedokteran terbaik di Indonesia. Aku tidak rela jika usaha yang sudah ia bangun sedari dulu dihancurkan begitu saja oleh ayah.

“Hanya kamu harapan ayah, kakak mu itu tidak bisa apa apa!”

“Kenapa ayah egois? Ayah juga udah tau kan kalau menjadi dokter adalah cita cita Arga dari kecil, dia udah berusaha semaksimal mungkin, dan dengan seenaknya ayah menghancurkan itu semua demi keinginan ayah! Sedari dulu sifat ayah memang tidak berubah, ayah selalu memaksa kita untuk menuruti keinginan ayah yang sangat bertolak belakang dengan kita,” protes ku geram.

“Tinggal nurut saja apa susahnya? Toh, ini juga demi kebaikan kalian,”

“Yakin ini semua untuk kebaikan kita? Bukannya ini hanya untuk kebaikan ayah? Kalau ini untuk kebaikan kita, kita tidak akan pernah tertekan seperti ini, yah!”

“Kamu pikir, kamu hebat?” cela Ayah.

“Sejak dulu ayah selalu meminta kamu untuk mencontohkan adikmu yang baik tapi nyatanya sampai sekarang kamu tetap tidak bisa, apa hal yang mau dicontoh dari kamu? Bahkan prestasi sedikit pun tidak ada. Kamu gagal, Nara!” imbuhnya.

“Aku memang selalu ga berguna di mata ayah, mau ngelakuin gimana pun aku ngga bakal pernah berharga dimata ayah,”

“Yah, menuntut ilmu tanpa kemauan diri nya sendiri ga bakal mendapatkan hasil yang memuaskan, cukup aku aja yang ayah giniin, adek jangan… biarin dia menggapai impian nya yah,” pintaku lirih

“Saya ini Ayah kalian! Saya yang tau patut atau tidak nya jalan pendidikan kalian!” seru ayah.

“Ayah tau? Iya ayah yang paling tau, tapi apa ayah tau bagaimana terpuruk nya anak-anak ayah ngejalanin semua tuntutan yang ayah kasih agar bisa terpenuhi?!”

“Ayah egois, ayah selalu mementingkan pekerjaan ayah, ayah tidak pernah peduli dengan yang namanya keluarga, bahkan ayah menikahi ibu hanya untuk pekerjaan, dan dengan tidak tau malu, ayah sengaja membuat bangkrut perusahaan ibu,” sinis ku.

“Anak kurang ajar!” Dengan cepat, tangan ayah menampar keras pipi kiri ku.

“Kenapa yah? Apa aku salah?” tanyaku setengah berteriak. Aku tidak merasakan sakit, ya mungkin karena sudah terbiasa.

“Dan ketika ibu meninggal pun ayah tidak peduli, ayah lebih mementingkan rapat dari pada istri ayah

sendiri!” sambung Arga.

“Sok tau, kalian!” sanggah ayah.

“itu fakta, yah,”

“Kakak adik sama saja! Ayah muak melihat kalian berdua, sana pergi! Kalian ini sama sekali tidak berguna,” usir ayah.

“Ayah tidak akan mempedulikan kalian lagi! urus diri kalian sendiri, ayah tidak akan pernah peduli!”

putus ayah.

“Terima kasih sudah mengundang kami ke acara keluarga ini, yah. Kami pamit, i hope dad lives happily without us anymore, dan aku berharap ayah panjang umur agar bisa mengurus perusahaan ayah itu.”

Setelah mengucapkan itu, aku dan Arga benar benar pergi. Arga tak banyak bicara, aku tau dia kelelahan. Jarak dari Bandung ke Jogja lumayan memakan waktu. Dia bela belain untuk datang kesini hanya untuk acara keluarga yang selalu berakhir buruk, seperti biasanya. Aku mengajaknya untuk menginap di rumahku, sebelum kembali ke Bandung.

Siang ini langit cukup mendung, matahari telah sedari tadi menyembunyikan diri di balik hitamnya awan tebal. Sekalipun begitu, hujan tak juga turun menyiram bumi. Angin bertiup sepoi-sepoi, sejuk nian terasa. Mengusap wajah lelahku. Kita memilih pulang dengan berjalan kaki saja, hitung hitung olahraga. Arga mengajakku untuk mampir ke sebuah minimarket untuk beristirahat.

“Kak, mau beli apa? Aku aja yang masuk, kakak tunggu sini,” tanya Arga sambil menunjuk ke bangku di depan minimarket ini.

“Es krim vanilla dua sama kopi deh, yang kaya biasa,” pintaku.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Arga datang dengan membawa satu kresek hitam yang lumayan penuh. Dia kemudian duduk di sebelahku. Kita sama sama terdiam menikmati makanan masing-masing sambil menatap jalanan yang lumayan sepi.

“Maaf,” gumam Arga.

“Kenapa deh,” tanyaku heran.

“Aku nyusahin kakak terus,” jawab nya sembari menundukkan kepala.

“Karena aku, kakak harus melepas impian kakak untuk kuliah dan harus kerja,” “Dih gapapa kali, kakak juga pengen kerja kok,”

“Kakak yang seharusnya minta maaf dek,”

“Kakak ga bisa lindungin kamu, i’m a bad sister, selalu kamu yang jadi korbannya, dan itu semua karena kakak ga bisa mewujudkan keinginan ayah,” sesalku.

“Kakak ga usah nyalahin diri sendiri, kita sama sama tersiksa,” “I know we are both going through hard things, kak,”

“Kita udah diusir ke berapa kali nya ya ini? Hahaha,” ujar Arga terkekeh.

“Selalu berakhir kaya gini,” hembusku.

“Arga, maafin kakak ya? Maaf kamu harus ngerasain semua ini, you deserve a better life,” “Mau gimana lagi? takdir kak,”

“Walaupun hidupku kaya gini, aku ga pernah nyesel, aku bisa punya kakak sehebat kak Nara, belum

tentu di kehidupan lain kita bisa ketemu,”

“Adek nya kakak udah dewasa ya sekarang?” ucapku sambil menepuk nepuk kepala Arga. “Adek satu satunya alasan kakak untuk tetap hidup, cuma kamu yang kakak punya, dek,” “Aku mau liat kakak sampe punya cucu nanti, jangan pergi ya kak?” pinta Arga.

“Ga akan, i will always beside you.” Aku beranjak dan langsung memeluknya. Pelukan ternyaman yang pernah aku rasakan.

“Selamat ulang tahun anak baik, terima kasih sudah memilih untuk hidup sampai sekarang. Mari bergandengan tangan untuk tetap hidup meski masalah selalu memeluk.”