Workshop Joyful Learning bersama Dr. Das Salirawati

  • Wednesday, 23 June 2021
  • 687 views
Workshop Joyful Learning bersama Dr. Das Salirawati

Sudah lebih dari satu setengah tahun, pembelajaran secara daring dilaksanakan akibat pandemi COVID-19. Rasa bosan dan frustasi menjadi persoalan klasik yang menghinggapi peserta didik akibat proses pembelajaran daring. Apalagi jika selama mengajar daring guru tidak melakukan variasi metode dan aplikasi pembelajaran. Kebosanan yang dirasakan peserta didik tentu menjadi hal yang wajar.

Selain hambatan secara psikis, pembelajaran secara daring juga dirasa tidak cukup efektif jika dilihat dari capaian hasil belajar. Terlebih untuk mata pelajaran yang terbilang “sulit” seperti Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA. Mata pelajaran tersebut tentu membutuhkan pendekatan lain di samping pembelajaran daring mengingat tingkat kompleksitas materinya.

Wacana pembelajaran tatap muka secara terbatas pun menyeruak. Pemerintah menargetkan pada tahun ajaran 2021/2022 setiap sekolah sudah dapat melangsungkan pembelajaran tatap muka secara terbatas. Meski sejauh ini masih dalam fase wacana dan perencanaan, setiap sekolah harus tetap mempersiapkan pembelajaran tatap muka terbatas.

Menyikapi hal tersebut, Selasa (22/6) lalu, SMP IT Masjid Syuhada mengadakan workshop bertajuk “Joyful Learning” untuk mempersiapkan para tenaga pendidik menghadapi pembelajaran tatap muka terbatas. Workshop tersebut dilaksanakan di ruang kelas 7A-7B dengan narasumber Dr. Das Salirawati—dosen Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Dalam workshop tersebut, Dr. Das Salirawati memaparkan urgensi pembelajaran yang menyenangkan yang mampu mendukung ketercapaian hasil belajar peserta didik. Menurutnya, joyful learning harus diupayakan oleh segenap guru untuk menyongsong pembelajaran tatap muka terbatas.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pembelajaran secara daring telah menimbulkan kebosanan dan rasa frustasi bagi para siswa. Peralihan dari pembelajaran daring ke pembelajaran tatap muka tentu membutuhkan waktu dan fase transisi. Terlebih, sangat mungkin para siswa belum mengenal para gurunya karena selama satu tahun ajaran penuh pembelajaran secara daring dilakukan. Karenanya, joyful learning akan sangat baik diterapkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, meredakan rasa jenuh, bosan, dan frustasi akibat lamanya pembelajaran daring, serta membina relasi yang akrab antara guru dengan siswa maupun antarsiswa.

Dr. Das Salirawati menyarankan para guru untuk mencoba memanfaatkan kecanggihan teknologi dan aplikasi yang mampu mendukung proses pembelajaran. Media sosial yang tren seperti Youtube, Instagram dan Tiktok dapat digali menjadi sarana belajar yang konstruktif asalkan para guru dapat berlaku kreatif untuk memanfaatkannya. Apalagi media-media sosial tersebut tentu sudah sangat akrab di kalangan para siswa.

Pada dasarnya, untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, para guru harus dapat mengembangkan kreativitasnya selama mengajar, baik dalam hal pemilihan model pembelajaran, media, maupun sumber belajarnya. Guru hendaknya menyadari bahwa mengajar generasi millenial seperti sekarang tidak bisa dilakukan dengan pendekatan-pendekatan lama.

Peserta didik dari kalangan generasi millenial cenderung menginginkan proses pembelajaran yang dikemas secara santai namun serius serta memberi ruang aktualisasi bagi mereka. Apalagi para siswa berada di tengah gelombang kecanggihan teknologi informasi dan pesatnya arus media sosial. Kiranya, konsep joyful learning yang dipaparkan Dr. Das Salirawati tersebut dapat menjadi upaya strategis untuk menjembatani kebutuhan belajar generasi millenial di tengah berbagai tuntutan kompetensi yang harus mereka capai.[]